Iklan Responsif

Efek Biaya Pendidikan Mahal

Biaya Pendidikan yang Mahal

Efek Biaya Pendidikan Mahal

Wajib Belajar


Baru-baru ini di Indonesia beredar isu bahwa pemerintah mewajibkan progam belajar 12 tahun. Tujuan dari progam wajib belajar 12 tahun ini adalah menghilangkan hambatan anak untuk merasakan pendidikan, Dari segi ekonomi terutama. Karena pemerintah ingin meningkatkan rata-rata lama bersekolah. Namun, hal ini belum bisa dilaksanakan.

Belum terlaksanakannya progam ini karena beberapa faktor yang mempengaruhi, diantaranya (1) keterbatasan anggaran (2) tingginya angka putus sekolah (3) wajib belajar 12 tahun belum ada payung hukumnya (4) sosialisasi progam wajib belajar 12 tahun belum maksimal. Padahal pendidikan merupakan hal yang sangat mempengaruhi manusia dalam meningkatkan kualitas hidup.

Faktor-faktor terhambatnya progam wajib belajar 12 tahun

Diantara faktor-faktor terhambatnya progam wajib belajar 12 tahun, keterbatasan anggaran menjadi permasalahan yang paling utama. Keterbatasan anggaran ini membuat pendidikan sulit dijangkau oleh masyarakat kalangan bawah. Padahal seharusnya pendikan merupakan hak seluruh rakyat di Indonesia seperti  yang sudah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi salah satu tujuan negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Biaya pendidikan menjadi permasalahan utama disebabkan karena setiap kali pergantian tahun ajaran biaya pendidikan semakin meningkat. Hal ini yang menyebabkan masyarakat kalangan bawah berpikir ulang untuk melanjutkan pendidikan anaknya. Meningkatnya biaya pendidikan ini tidak hanya terjadi pada sekolah swasta saja, sekolah yang berstatus negeri juga mengalami peningkatan biaya pendidikan.

Mahalnya biaya pendidikan membuat sebagian orang tua berpikir ulang untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika orang tua enggan menyekolahkan anaknya maka tingkat sdm di Indonesia akan semakin turun. Dan membuat tingkat pengangguran semakin tinggi. Jadi dengan mahalnya biaya pendidikan tingkat sdm di Indonesia akan semakin menurun. Tidak hanya itu, mahalnya biaya pendidikan juga akan membuat taraf ekonomi masyarakat melemah.

Mahalnya biaya pendidikan tidak hanya terjadi pada perguruan tinggi saja. Pada faktanya mahalnya biaya pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas juga masih mahal. Padahal pemerintah sudah mengadakan progam Biaya Operasial Sekolah (BOS). Ternyata dana BOS yang diberikan perintah belum mencukupi dana yang dibutuhkan sekolah. 

Biaya pendidikan dibilang mahal oleh masyarakat kalangan bawah karena adanya pungutan liar disekolah, seperti biaya formulir pendaftaran ulang, biaya seragam sekolah, biaya lks, biaya praktikum, biaya study tour, biaya wisuda, dan sumbangan pengembangan sekolah. Biaya-biaya ini tidak termasuk anggaran dana BOS, oleh karena itu masyarakat kalangan bawah lebih memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya dengan alasan mahalnya biaya pendidikan.

Dari permasalahan mahalnya biaya pendidikan, didapatkan beberapa solusi. Solusi-solusi tersebut diantaranya (1) diperlukan adanya kejujuran serta rencana yang saling berkaitan dari pemerintah untuk mewujudkan anggaran dana pendidikan bagi masyarakat (2) sekolah-sekolah hendaknya membebaskan biaya-biaya pungutan seperti biaya lks, study tour, dan uang gedung (3) kebijakan pemerintah terutama dari mentri pendidikan yang menyepakati progam kapasitasi pendidikan harus diberhentikan atau dihapus.

Solusi lain dari mahalnya biaya pendidikan adalah mencari beasiswa. Guru bisa mencarikan beasiswa kepada muridnya yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, namun orang tuanya masih berada di masyarakat kalangan bawah. Beasiswa ini akan meringankan beban orang tua dan membuat anak tetap bisa merasakan pendidikan.

Beasiswa umunya lebih banyak di tingkat perguruan tinggi. Karena biaya yang digunakan untuk dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tidak sedikit. Mencari beasiswa saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi bukanlah hal sulit. Pemerintah pun sudah mempunyai progam sendiri untuk masyarakat kalangan kebawah untuk tetap bisa belajar di perguruan tinggi. Progam ini disebut progam bidikmisi. 

Penulis : Putri Rizqi Ramadhanti


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel