Iklan Responsif

Internalisasi Pendidikan Karakter

Internalisasi Pendidikan Karakter: 

Pengertian, Peran Guru dalam Pendidikan Karakter

Halo, kembali lagi bersama saya di sini, sekarang saya akan membahas tentang internalisasi pendidikan karakter. Sebelum mengetahui tentang pendidikan karakter Mari mengetahui makna dari karakter terlebih dahulu. 

Internalisasi Pendidikan Karakter

Pengertian Karakter

Karakter berasal dari akar kata bahasa Latin yang berarti dipahat secara harfiah karakter artinya adalah kualitas mental atau moral. Hermawan Kartajaya mengemukakan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong Bagaimana seseorang bertindak bersikap berujar dan merespon sesuatu.

Sehingga dapat di simpulkan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru untuk mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu dalam membentuk watak peserta didik dengan cara memberi keteladanan, cara bicara cara atau menyampaikan materi yang baik, toleransi,  dan berbagai hal yang terkait lainnya.

Sekarang mari kita bahas tentang internalisasi pendidikan karakter.

Peran Guru dalam Pendidikan Karakter 

Guru merupakan sosok yang menjadi idola bagi anak didik. keberadaannya sebagai jantung pendidikan tidak bisa dipungkiri. Baik atau buruknya pendidikan sangat tergantung pada yang sosok yang satu ini.  Segala upaya sudah harus dilaksanakan untuk membekali guru dalam menjalankan fungsinya sebagai aktor  penggerak sejarah peradaban manusia dengan melahirkan kader-kader masa depan bangsa yang berkualitas paripurna, baik sisi akademik, afektif, dan psikomotorik.
Berikut uraian mengenai beberapa peran utama guru dalam pendidikan karakter.

A. Keteladanan 

Keteladanan merupakan faktor mutlak yang harus dimiliki oleh guru. Dalam pendidikan karakter, keteladanan yang dibutuhkan oleh guru berupa konsistensi dalam menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan-larangan Nya; kepedulian terhadap nasib orang-orang tidak mampu;  kegigihan dalam meraih prestasi secara individu dan sosial;  ketahanan dalam menghadapi tantangan, rintangan, dan godaan; serta kecepatan dalam bergerak dan aktualisasi.

B. Inspirator

Seorang guru akan menjadi sosok inspirator Jika ia mampu membangkitkan semangat untuk maju dengan mengerahkan Segala potensi yang dimiliki untuk meraih prestasi spektakuler bagi diri dan masyarakat. secara otomatis kesuksesan seseorang akan menginspirasi seseorang lainnya untuk meniru dan mengembangkannya. Jika semua guru mampu menjadi sosok inspirator maka kadar kantor bangsa akan muncul sebagai sosok inspirator. mereka akan mencurahkan segala daya dan upaya untuk meraih prestasi membangun perbedaan,  dan menjulangkan mimpi ke luar angkasa.

C. Motivator 

Setelah menjadi sosok inspirator peran guru selanjutnya adalah motivator. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kemampuan guru dalam membangkitkan semangat dan potensi yang luar biasa dalam diri peserta didik. Setiap anak adalah genius,  yang mempunyai bakat spesifik dan berbeda dengan orang lain. Maka,  tugas guru adalah melahirkan potensi itu ke permukaan dengan banyak berlatih, mengasah kemampuan,  dan mengembangkan Potensi semaksimal mungkin.  salah satu upaya yang efektif adalah dengan menyediakan Wahana aktualisasi sebanyak mungkin,  misalnya sering mengadakan lomba, pentas seni, dan lain sebagainya. semakin banyak praktik, semakin baik dalam upaya melahirkan dan mengembangkan potensi.

D. Dinamisator 

Seorang guru tidak hanya membangkitkan semangat, tapi juga menjadi lokomotif yang benar-benar mendorong kerbau ke arah tujuan dengan kecepatan, kecerdasan, dan kearifan yang tinggi. 

Berikut adalah kriteria guru yang dinamisator: 
  • Karya Gagasan dan pemikiran, serta mempunyai visi yang jauh kedepan.
  • Mempunyai kemampuan manajemen terstruktur, sistematis, fungsional, dan profesional.
  • Mempunyai jaringan yang luas sehingga bisa melangkah secara ekspansif dan eksploratif.
  • Punyai kemampuan sosial dan humaniora yang bagus.
  • Mempunyai kreativitas yang tinggi, khususnya dalam mencipta dan mencari solusi dari problem yang ada
  • Mempunyai kematangan dalam berpolitik
  • Harus mengedepankan kaderisasi dan regenerasi

E. Evaluator 

Peran yang melengkapi peran-peran sebelumnya adalah sebagai evaluator. Artinya,  guru harus selalu mengevaluasi metode pembelajaran yang selama ini dipakai dalam pendidikan karakter. Selain itu ia  buka harus mampu mengevaluasi Sikap perilaku yang ditampilkan, sepak terjang dan perjuangan yang digariskan, dan agenda yang direncanakan. 

Evaluasi adalah warna meninjau kembali efektivitas, efisiensi, dan produktivitas sebuah program.  Evaluasi dilakukan secara internal melibatkan pihak-pihak yang terkait di dalamnya. sedangkan evaluasi pihak eksternal menyertakan pihak pihak luar yang berkepentingan. Evaluasi 2 dimensi ini akan menemukan objektivitas penilaian, sehingga ada masukan yang berharga bagi perbaikan dan pengembangan ke depan.


Penulis : Aditya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel