Iklan Responsif

Makalah Penumbuhan Kepribadian Melalui Pendidikan Karakter

MAKALAH DASAR DASAR PENDIDIKAN
Penumbuhan Kepribadian Melalui Pendidikan Karakter
Makalah Penumbuhan Kepribadian Melalui Pendidikan Karakter

DISUSUN OLEH:
 SYAHDA ELIEZANATALIE 19030184061




Kata Pengantar

       Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat-NYA saya bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Penumbuhan Kepribadian Melalui Pendidikan Karakter” . Tidak lupa saya mengucapkan terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan pemikirannya.
Seperti  kita ketahui pendidikan katrakter itu sangat penting bagi anak bangsa.Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang pendidikan karakter, baik itu dari segifungsi dan tujuan pendidikan karakter maupun kegiatan serta cara menumbuhkan kepribadian yang berkarakter pada siswa. Semoga apa yang saya sampaikan melalui makalah ini dapat menambah wawasan, baik itu untuk saya pribadi sebagai penulis maupun bagi pembaca.
      Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun  makalah ini. Oleh karena itu,  kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya  harapkan guna kesempurnaan makalah ini.Atas perhatian Bapak / Ibu / Saudara saya menyampaikan terimakasih.


Nganjuk, 10 Desember 2019

                                                                                                                   

Penulis 


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Persoalan karakter dan budaya bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat, baik itu melalui media cetak, media sosial,wawancara dan lain sebagainya. Pendidikan karakter saat ini menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, tindak kriminal, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan yang terjadi dimana-mana, penggunaan obat-obatan terlarang, serta dunia politik yang menuai pro dan kontra menjadi salah satu topik yang sering dibicarakan masyarakat.Situasi sosial, kultural, dan krisis moral pada masyarakat kita akhir-akhir ini memang semakin mengkhawatirkan. Ada berbagai macam peristiwa dalam dunia pendidikan yang semakin merendahkan harkat dan martabat manusia serta merusak moral generasi muda.
       Pada era modern ini pemerintah sudah merencanakan serta sudah mengupayakan dalam setiap proses pembelajaran harus disisipi pendidikan karakter agar kelak tercipta generasi-generasi bangsa yang berakhlak dan bermartabat. Pendidikan karakter alangkah lebih baik ditanamkan dalam diri anak pada usia dini. Karena sesuatu yang sudah di biasakan mulai dari kecil akan menjadi penentu sikap anak kelak, supaya tidak terpengaruh gaya dan tindakan yang berbau negatif dan agar anak memiliki sifat kejujuran serta budi pekerti yang luhur. Pendidikan karakter bukanlah pendidikan yang berbasis hafalan dan teori. Pendidikan karakter merupakan pendidikan perilaku yang terbentuk dari kebiasaan dan keteladanan para pendidik, orang tua, para pemimpin, dan masyarakat yang merupakan lingkungan luas bagi pengembangan karakter anak. Sekolah adalah lembaga yang menjadi sarana dan memikul beban untuk melaksanakan pendidikan karakter.
       Menjadikan manusia cerdas dan pintar bisa jadi mudah melakukannya, namun menjadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan bijak, tampaknya jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit untuk dilakukan. Dengan demikian, sangat wajar apabila dikatakan bahwa problem moral merupakan persoalan akut dan termasuk penyakit kronis yang mengiringi kehidupan manusia kapan dan dimana pun. Sehingga kita perlu menyadari bahwa proses pembentukan manusia yang seutuhnya merupakan hal yang tidak mudah dan tidak bisa dicapai secara cepat atau instan. Hal ini membutukan partisipasi serta dukungan dari berbagai pihak,baik itu keluarga, sekolah dan  
masyarakat. Tujuannya agar pendidikan karakter bisa terlaksana dengan baik dan membawa hasil sesuai harapan bersama.

1. 2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:
1.2.1 Bagaimana fungsi dan tujuan pendidikan karakter bagi siswa?
1.2.2 Bagaimana kegiatan penyelenggaraan  pendidikan karakter di sekolah?
1.2.3 Bagaimana cara menumbuhkan kepribadian berkarakter pada diri siswa?
1.2.4 Bagaimana hubungan pendidikan karakter dengan keberhasilan pendidikan?

1. 3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang disusun oleh penulis di atas, maka tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Menjelaskan fungsi dan tujuan pendidikan karakter bagi siswa.
1.3.2 Menjelaskan kegiatan penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah.
1.3.3 Menjelaskan cara menumbuhkan kepribadian berkarakter pada diri siswa.
1.3.4 Menjelaskan hubungan pendidikan karakter dengan keberhasilan pendidikan.

1. 4 Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan penulisan tersebut, dapat ditulis manfaat dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.4.1 Agarpembaca mengetahui fungsi dan tujuan pendidikan karakter bagi siswa.
1.4.2 Agarpembaca mengetahui kegiatan penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah.
1.4.3 Agar pembaca mengetahui cara menumbuhkan kepribadian berkarakter pada diri siswa.
1.4.4 Agar pembaca mengetahui hubungan pendidikan karakter dengan keberhasilan pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan suatu tindakan manusia dalam mendidik serta mengembangkan potensi peserta didik untuk membangun karakter pribadinya agar menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter berhubungan erat dengan pendidikan moral yang mana tujuannya untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus untuk penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih baik.Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk generasi penerus bangsa yang tangguh, berakhlak mulia, bermoral, dan berkepribadian baik. Selain itu pendidikan karakter juga membentuk generasi bangsa mempunyai jiwa patriotisme atau suka menolong sesama, berkembang dengan dinamis, berorientasi pada ilmu pengetahuan serta teknologi, beriman dan bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa.
Pendidikan karakter berfungsi untuk mengembangkan potensi dasar seseorang agar berperilaku baik serta berpikiran yang positif. Adapun fungsi utama dari pendidikan karakter ini yaitu untuk mengembangkan serta membangun perilaku siswa.Pendidikan karakter juga berfungsi untuk megembangkan peradaban manusia menjadi lebih baik  di dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter bisa bukan hanya dilakukan di sekolah saja, melainkan bisa dilakukan di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, pemerintahan, dunia usaha, dan  media teknologi.

2.2 Kegiatan Penyelenggaraan Pendidikan Karakter di Sekolah
Pendidikan yang diajarkan oleh guru di sekolah merupakan salah satu proses untuk membentuk karakter peserta didik yang kurang baik menjadi yang lebih baik. Pada usia sekolah, anak harus selalu dikontrol dan diawasi dengan baik. Sehingga pendidikan yang ia peroleh tidak disalahgunakan dan bisa diterapkan serta diaplikasikan dengan baik dan benar dalam kehidupan mereka sehari-hari. 
      Kegiatan pembelajaran pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Pembelajaran umum
Kegiatan ini dilakukan secara bersama (semua jenjang pendidikan) dengan aktivitas seperti, seminar, talk show, tanya jawab, pentas seni dan keterampilan, dan kegiatan lain-lain yang sudah dimiliki siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun mandiri. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan, mengasah bakat, dan mengembangkan potensi anak. Pengenalan diri dan kemampuan diperlukan guna mengeksplorasi diri serta memberikan apresiasi penghargaan terhadap kemampuan orang lain.
b. Pembelajaran di dalam kelas
Kegiatan ini dilakukan di dalam kelas dengan berbagai metode dan topik yang dibahas dan tentunya tetap mengacu pada kompetensi dasar:
a) Sikap, perilaku dan perkataan yang hubungannya dengan Tuhan
b) Sikap, perilaku dan perkataan yang hubungannya dengan diri sendiri
c) Sikap, perilaku dan perkataan yang hubungannya dengan keluarga
d) Sikap, perilaku dan perkataan yang hubungannya dengan masyarakat dan bangsa
e) Sikap, perilaku dan perkataan yang hubungannya dengan alam sekitar
c. Pembelajaran di luar kelas
       Kegiatan yang dilakukan berupa bakti sosial, camping (perkemahan), sanggar belajar, kerja bakti, gotong-royong, ekstrakulikuler, dan lain-lain. Hal ini bertujuan agar siswa mengenal dan belajar beradaptasi serta berinteraksi secara sehat dengan masyarakat yang heterogen tanpa kehilangan identitas diri. Adapun manfaat dari kegiatan ini adalah untuk mengembangkan minat dan bakat,  menumbuhkan motivasi instrinsik, serta mengembangkan dan memperoleh pengalaman. Kegiatan ini juga bermanfaat dalam meningkatkan serta mewujudkan kepedulian dan kepekaan sosial anak terhadap orang lain, sehingga anak akan memiliki jiwa sosial yang baik.
d. Pendampingan mentor
       Menunjuk siswa senior untuk dapat memberikan pendampingan terhadap juniornya dalam menghadapi berbagi problematika pengembangan diri dan pergaulan. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemandirian, memupuk rasa tanggung jawab anak pada diri sendiri, memahami perasaan dan masalah orang lain, serta mendengarkan ide-ide dan mengatasi masalah secara bertanggung jawab.  Meningkatkan rasa percaya diri dan hubungan yang mendalam serta menerimaorang lain apa adanya merupakan hal yang penting. Melalui sikap tersebut anak akan memiliki sifat peduli, rendah hati , dan memiliki rasa toleransi. Hal itu dapat memperdalam pemahaman nilai-nilai moral dalam kehidupan.
e. Berdiskusi
Kegiatan ini dilakukan dengan membentuk kelompok kecil di kelas, kemudian diberi beberapa topik permasalah mengenai isu-isu terkini untuk dibahas dan didiskusikan para siswa. Pada kesempatan ini guru bertindak sebagai pengamat. Guru bertugas mengamati dan mengarahkan jalannya diskusi agar siswa sendiri yang berpikir dan saling bertukar pendapat mereka masing-masing. Hal ini bertujuan untuk memupuk dan mengembangkan cara berpikir kritis, kreatif, tanggap, dan menghargai orang lain.
2.3  Cara Menumbuhkan Kepribadian Berkarakter pada Diri Siswa
       Pembentukan karakter di sekolah dituntut bisa menciptakan suasana sekolah yang menyenangkan dengan memasukkan nilai-nilai karakter dasar. Guru mempunyai peran penting dalam membentuk karakter siswa. Guru dinilai sebagai sosok berpendidikan yang diharapkan mampu mendidik anak-anak untuk masa depan. Pribadi guru memiliki peran yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, guru memiliki peran yang besar dalam pembentukan karakter siswa. 
Untuk mendukung hal tersebut ada baiknya guru juga menguatkan karakter yang dimiliki setiap siswa. Hal seder¬hana yang bisa dilakukan guru untuk membangun ka¬rakter pada siswa adalah sebagai berikut:
a) Pembiasaan dan pengulangan melakukan hal-hal baik
Guru hendaknya mengajarkan nilai moral dan nilai kehidupan pada setiap pelajaran. Alangkah lebih baik dalam pelajaran yang diajarkan juga menanamkan nilai moral yang bisa dijadikan bahan pelajaran hidup. Tentunya dalam lingkungan keluarga anak sudah diajarkan pendidikan karater sederhana. Dengan pemahaman dan penerapan yang secara bertahap ia lakukan, maka secara tidak langsung anak menjadi terbiasa dengan kedisiplinan yang diajarkan oleh orang tuanya. Karena setiap hari dia melakukan hal tersebut, maka hal itu akan menjadi kebiasaan yang sudah biasa ia lakukan bahkan sampai besar nanti. 
              Kebiasaan baik yang dilakukan berulang-ulang setiap hari, hal ini akan membudaya menjadi karakter. Guru harus menegur dan menasehati siswa  
apabila mereka telah melanggar peraturan. Misalnya seorang siswa yang datang terlambat ketika guru sudah menerangkan pelajaran di kelas, lalu siswa tersebut masuk kelas dengan keadaan gugup dan takut dimarahi oleh gurunya, belum lagi disorakin oleh teman sekelasnya. Pada saat itu guru berhak menegur dan memberi peringatan kepada siswa agar tidak datang terlambat lagi. Akhirnya dia akan berusaha agar ia tidak datang terlambat lagi.
b) Mengajarkan tata karma dan sopan santun
       Hal yang seringkali luput diajarkan di sekolah adalah bagaimana cara bersikap dan bertutur kata. Memang terdengar sangat sederhana, tetapi merupakan hal penting yang harus diajarkan kepada siswa untuk menjaga sikap dan mengetahui mana yang benar dan salah. Selama ini siswa bersikap tidak sopan hanya karena mereka tidak tahu bagaimana cara bersikap yang baik dan benar. Hal ini mungkin terjadi karena mereka mencontoh sikap negatif orang disekitarnya, yang mana sudah dianggap sebagai hal yang lumrah dan wajar. Sudah seharusnya ketika ada sikap yang kurang baik yang dilakukan oleh siswa, guru berperan untuk menegur dan mengoreksi sikap tersebut. Guru tidak perlu memarahi siswa, namun cukup mengingatkan  bahwa sikapnya itu kurang baik. 
       Tata karma dan sopan santun penting diajarakan sejak dini. Sopan santun yang diajarkan guru dapat  dimulai dari kebiasaan mengucapkan salam dan senyum ramah kepada orang lain, mengucapkan terima kasih saat kita diberi sesuatu atau mendapat pertolongan, meminta maaf apabila menyakiti orang lain baik secara disengaja maupun tidak, bertutur kata yang baik dan tidak berkata kasar, dan menghormati orang yang lebih tua.
c) Memberi apresiasi atau pujian yang wajar atas keberhasilan siswa
       Pemberian pujian sebagai salah satu bentuk penguatan dalam proses belajar mengajar merupakan hal yang sangat diperlukan, sehingga dengan penguatan tersebut diharapkan siswa akan terus berbuat yang lebih baik. Dengan membiasakan hal ini, siswa pun juga dapat ikut mengapresiasi diri sendiri atas usaha yang telah dilakukan. Siswa akan membangun karakter semangat belajar dan memperbaiki diri untuk lebih baik kedepannya.
d) Bersikap jujur pada diri sendiri dan terbuka pada kesalahan
       Manusia tentunya yang tidak luput dari kesalahan meski tidak pernah berniat dengan sengaja melakukan hal itu. Guru dipandang siswa sebagai orang yang lebih dewasa. Berarti  siswa menilai guru mereka merupakan contoh dalam bertindak dan berperilaku. Untuk memberikan contoh yang baik, guru hendaknya mau mengakui kesalahan yang dibuat sekecil apapun itu. Dalam melakukan ini mungkin kadang ada rasa gengsi, namun sikap ini bisa menjadi pelajaran yang baik bagi siswa. Menjadi manusia harus berani jujur pada diri sendiri dan mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Melalui hal itu, siswa bisa belajar bagaimana cara untuk memperbaiki kesalahan dan berani bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka lakukan.

2.4 Hubungan Pendidikan Karakter dengan Keberhasilan Pendidikan
       Keberhasilan pendidikan akan menentukan kemajuan suatu bangsa. Dalam dunia pendidikan ada beberapa aspek yang perlu dipelajari, salah satunya yaitu pendidikan karakter. Pendidikan karakter sangat diharapkan untuk bisa membangun karakter anak bangsa ini. Mendidik orang menjadi pandai lebih mudah daripada mendidik orang untuk menjadi pribadi yang berkarakter baik, karena orang pandai belum tentu mempunyai karakter yang baik. Banyak orang pintar lulusan dari sekolah bagus dan mahal yang tidak memiliki karakter yang baik. 
       Untuk menciptakan peradaban bangsa yang dicita-citakan tersebut, diperlukan pengoptimalan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter. Melalui mengoptimalkan penanaman nilai-nilai moral dan nilai kehidupan di dalam dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadikan nilai-nilai tersebut menjadi suatu kebiasaan.Keberhasilan suatu pendidikan ditentukan berdasarkan berhasil atau tidaknya pendidikan karakter dilakukan. Pendidikan karakter dikatakan berhasil apabila peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan mereka. Generasi muda merupakan generasi bangsa yang nantinya menentukan maju dan berkembangnya bangsa ini. Untuk itu generasi muda harus memiliki karakter yang baik dan berakhlak. Dalam aspek kepribadian, karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang, mental, sikap dan perilaku. Pembelajaran tentang adat istiadat, tata krama,dan sopan santun, menjadikan pendidikan karakter semacam ini lebih menekankan kepada perilaku- 
perilaku nyata tentang bagaimana seseorang dapat disebut berkepribadian baik atau tidak baik berdasarkan norma-norma yang bersifat kontekstual.

BAB III
PENUTUP


3.1 Simpulan
       Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidkan karakter sangat penting untuk dilakukan. Pendidikan karakter merupakan suatu tindakan manusia dalam mendidik serta mengembangkan potensi peserta didik untuk membangun karakter pribadinya agar menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Pendidikan karakter berhubungan erat dengan pendidikan moral yang mana tujuannya untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus untuk penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih baik.
       Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan di dalam kelas, luar kelas, dan kegiatan berdiskusi. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa menjadi aktif dan terampil dalam menghadapi setiap persoalan. Siswa dituntut untuk bertanggung jawab dan berani berpendapat. Dengan hal-hal sederhana seperti ini karakter anak dapat dibentuk.
       Pembentukan kepribadian berkarakter dapat dilakukan melaui kebiasaan. Karakter terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan. Kebiasaan saat anak-anak biasanya bertahan sampai masa remaja. Perilaku orang tua dapat mempengaruhi baik atau buruk pembentukan kebiasaan anak-anak mereka. Unsur penting dalam pembentukan karakter adalah pikiran, karena melalui pikiran yang di dalamnya terdapat seluruh sistem yang terbentuk dari pengalaman hidupnya.
       Keberhasilan pendidikan akan menentukan kemajuan suatu bangsa. Keberhasilan suatu pendidikan ditentukan berdasarkan berhasil atau tidaknya pendidikan karakter dilakukan. Pendidikan karakter dikatakan berhasil apabila peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Dharma Kesuma, dkk. 2010. Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung:Remaja Rosdakarya.

Koesoema, Doni. 2010. Pendidikan Karakter (Strategi Mendidik Anak di Zaman Global). Jakarta:PT. Grasindo

Samani, Muchlas dkk, 2012, Pendidikan Karakter, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Thomas, Lickona. 2013.Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel