Iklan Responsif

Dampak Pembelajaran Membosankan

Pembelajaran yang Membosankan: Faktor Penyebab Kebosanan, kiat-kiat Mengatasi Kebosanan


Dampak Pembelajaran Membosankan

Apa kabar pembaca, kita pasti pernah merasa bosan ketika kegiatan pembelajaran di sekolah sebenarnya itu adalah hal umum yang di rasakan hampir semua siswa di sekolah. Pertanyaannya adalah mengapa siswa merasa bosan apakah ada faktor yang menyebabkan kebosanan, apakah ada cara untuk menghilangkan kebosanan. Sebelum menjawab hal tersebut mari kita pahami dahulu mengapa siswa bosan ketika pembelajaran. 

Proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah selama ini dirasa kurang menyenangkan dan mengesankan bagi anak didik, sehingga tujuan pembelajaran untuk mengasah kemampuan dan memperbaharui perilaku anak didik tidak dapat tercapai. Inilah problem yang melilit kebanyakan sekolah di negeri ini. Sekolah terus menjejali anak didik dengan segudang teori tanpa memperhatikan kondisi psikologisnya, sehingga sangat sedikit anak didik yang mampu menyerap materi pelajaran dengan baik. Akibatnya, bukan prestasi yang didapat, melainkan justru kemunduran dan ketertinggalanlah yang menghantui perjalanan dunia pendidikan di negeri ini.

A. Faktor Penyebab Kebosanan

Ada beberapa faktor yang dikemukakan oleh para pakar terkait kebosanan anak didik dalam pembelajaran. Muhammad Abduh (2012), dengan mengutip pendapat seorang pakar ilmu jiwa, Dale Carnigie, mengatakan  bahwa situasi anak didik yang mengantuk, menguap, dan tidur di kelas dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Otak manusia tidak akan merasa lelah meski digunakan untuk berpikir dan belajar selama sehari semalam. Kelelahan otak justruk terjadi akibat perasaan bosan dan penat inilah yang menyebabkan seseorang cepat merasa lelah dan ingin menghentikan pekerjaannya untuk kemudian beristirahat. 

Lebih jelasnya, Carnige memberikan analogi sebagai berikut.  Ada seorang karyawan yang bekerja di suatu perusahaan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahnya namun sepulang kerja ia tampak begitu lelah sehingga sesampainya di rumah ia langsung menuju kamar untuk tidur tetapi ketika ada telepon dari kawannya yang menawarkan untuk pergi tamasya ke tempat wisata yang jauh sekitar itu juga rasanya ia sanggup untuk tujuan wisata yang relatif jauh dari rumahnya ia merasa lelah karena rutinitas yang membosankan yang dilalui untuk melakukan hal yang lainnya pernyataan rasa lelah itu seolah sirna.

Dampak Pembelajaran Membosankan

Secara umum ada beberapa faktor penyebab anak tidak bosan dalam belajar baik dari guru sebagai belajar anak didik sebagai pembelajar maupun suasana dan kondisi di kelas. Berikut adalah penjelasannya secara lebih detail.

1. Metode Mengajar yang Monoton 

Guru  merupakan aktor utama dalam dunia pendidikan apabila guru-guru yang ada mampu menjalankan tugas secara profesional sekaligus bertalenta maka proses pembelajaran akan dapat berjalan dengan nasib menarik dan menyenangkan sebaliknya jika guru tidak profesional dan tidak memiliki talenta, proses pembelajaran pun akan sangat menjemukan.  salah satu penyebabnya adalah metode mengajar yang menonton misalnya guru hanya membaca dan menjelaskan materi pelajaran dari meja guru tanpa merangsang anak didik untuk bertanya memberikan umpan balik maupun mendorong mereka untuk berpikir kritis dan eksploratif.

2. Anak Didik Hanya Menjadi Objek Pembelajaran

Pola pengajaran yang monoton selalu menjadikan anak didik sebagai objek yang dipaksa menuruti kemauan guru. Guru tidak mau menerima masukan, kritikan, maupun pertanyaan anak didik, karena menganggap bahwa hal itu bisa menjatuhkan kewibawaan dan harga dirinya di depan anak didik

3.  Anak Didik Jarang Melakukan Praktik

Faktanya pembelajaran di sekolah masih terus berkutat pada teori. Adapun praktik yang jarang diberikan dan hanya diberi porsi maksimal 30%. Akhirnya, ilmu yang diterima oleh anak didik hanya terpabatas pada teori yang berpotensi mudah lupa, karena tidak mengalami secara langsung dalam bentuk praktik srbagai media pembelajaran yang membekas dalam pikiran sebagai pengalaman yang menarik dan mengasyikkan.

4. Masing Masing Pihak Mengedepankan Egoisme

Dalam konteks pembelajaran di kelas, kolaborasi antara semua anak didik di kelas adalah suatu keharusan. Dalam dunia pendidikan, dikenal teori cooperative learning yang mendorong adanya kerja sama aktif dimana anak didik  mampu menemukan dan memahami konsep yang sulit jika berdiskusi dengan teman-temannya.  mereka akan berusaha memecahkan masalah yang dihadapi secara bersama-sama. meskipun nyatanya hal ini belum terlaksanakan secara meneyeluruh.

5. Pendekatan yang salah 

Menurut Dale Carnegie, tidak ada seorang manusia pun yang rela direndahkan derajat dan harga dirinya. Oleh sebab itu, jika seorang guru membangun wibawanya dengan cara menyambungkan diri dan menjatuhkan harga diri anak didiknya melalui kata-kata yang menunjukkan bahwa hanya dialah yang benar kata-katanya tentu tidak akan pernah didengar oleh anak-anak didiknya. Sebaliknya mereka akan mencari kesibukan sendiri-sendiri atau bahkan malah tidur di kelas saat pelajaran sedang berlangsung. Demikian halnya jika Sang Guru memberi kesan agar anak tidak takut kepadanya mereka hanya akan hormat kepadanya di dalam kelas ketika jam pelajaran sedang berlangsung. Diluar itu, ia akan menjadi bahan olok-olokan dan tertawan anak didiknya.


B. Tips Mengatasi Kebosanan dalam Proses Pembelajaran 

Dalam keberhasilan proses belajar-mengajar diperlukan kerjasama antara dua komponen utama yaitu pendidik dan peserta faktor yang mempengaruhi antara lain ketenangan, kesabaran, kasih sayang, dan kebetahan anak didik di dalam kelas. Dalam pelaksanaanya sudah pasti dibutuhkan media dan metode pembelajaran yang tepat.Untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, seorang guru harus menguasai berbagai keterampilan yaitu variasi metode pembelajaran, gaya mengajar, pola interaksi, serta variasi dalam kegiatan pembelajaran. Ibarat makanan jika kita disajikan menu yang sama tentu kita merasa bosan. begitu juga seorang guru yang mengajar dengan satu metode saja, maka anak didik akan merasa bosan 

Sekian artikel dari saya, semoga artikel saya dapat membantu para pendidik dan calon pendidik agar menjadi pendidik yang lebih baik dan menjadi pendidik yang akan mengangkat tingkat pendidikan di Indonesia. Terimakasih banyak salam sukses.

" Seorang guru bukan hanya seseorang yang bekerja sebagai guru tapi seorang guru adalah seseorang yang memiliki ilmu dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain sehingga bermanfaat"


Penulis : Aditya




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel