Iklan Responsif

Makalah Pengajaran Para Ulama Dalam Pendidikan Karakter

Makalah Dasar-Dasar Pendidikan
Pengajaran Para Ulama Dalam Pendidikan Karakter



Oleh:
Arif Muafa (19030184042)




KATA PENGANTAR

Ucap dan rasa  syukur selalu saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah ini dalam melengkapi tugas yang diberikan pada mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan yang mana diampu oleh Bapak Dr. Binar Kurnia Prahani, M.Pd. dengan judul yang ada pada  makalah saya ini yaitu “Pengajaran Para Ulama Dalam Pendidikan Karakter”.
Ucapan terima kasih juga saya berikan kepada kedua orang tua saya yang selalu bedoa dan mendukung saya demi kelancaran kuliah yang saya ikuti. Tidaklah ada kata-kata yang dapat diucapkan oleh diri saya selain kata terima kasih kepada dosen mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan yang telah memeberi inspirasi dan motivasi saya dalam mengikuti mata kuliah ini.
Saya berharap, semoga apa yang saya tuis ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Saya hanyalah sebatas manusia yang mana tidak akan pernah luput dari kesalahan. Sehingga saya juga membutuhkan kritik dan saran pada makalah yang saya buat ini. 
Hanyalah kata terima kasih yang dapat saya ucapkan di akhir kata pengantar ini kepada para pembaca yang sudah memberikan kritik dan saran.

Surabaya, 14 Desember 2019


Arif Muafa

BAB 1
PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang 
Ulama merupakan pewaris nabi yang mana sudah dijelaskan oleh Rasulullah SAW pada suatu riwayat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Sebagaimana yang telah kita ketahui tugas dari seorang nabi sebagai utusan Allah SWT adalah untuk membantu suatu umat dari kegelapan, kebodohan, kenistaan, dan kesyirikan seperti yang telah ditunjukkan oleh para nabi terdahulu. Ini merupakan amanah yang tentunya sngatlah berat jika dipangku oleh seorang diri. Tetapi Allah SWT telah memilih seseorang yang mampu dalam mengemban amanah yang sangat berat ini. Tentulah ia seorang yang memiliki ketabahan yang sangat luar bisa. Sangatlah berbeda jauh jika dibandingkan kita yang hanya merupakan kaum awam. Sehingga hal itulah yang menjadikan mereka sebagai orang-orang yang terpilih yang menjadi utusan Allah dalam memperbaiki dunia yang sementara ini.
Dengan adanya para ulama yang berada ditengah-tengah masyarakat, dapat membangun suasana lingkungan yang baik. Hal ini dapat menjadi panutan dalam membangun karakter masyarakat yang lebih baik dengan membangun rasa kebersamaan. Dengan adanya rasa kebersamaan yang kuat, masyarakat tersebut tidak akan mudah terpengaruh hal-hal negatif yang dapat berdampak buruk bagi masyarakat tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara pengajaran para ulama dalam pendidikan karakter kepada para muridnya ?
2. Bagaimana bentuk karakter yang harus diteladani dan diterapkan oleh generasi bangsa di Inodonesia ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui  cara pengajaran para ulama dalam pendidikan karakter kepada para muridnya 
2. Mengetahui bentuk karakter yang harus diteladani dan diterapkan oleh generasi bangsa di Inodonesia
1.4 Manfaat 
1. Dapat menerapkan cara pengajaran para ulama dalam pendidikan karakter kepada para murid kita kelak
2. Bentuk karakter yang harus diteladani dan diterapkan oleh generasi bangsa di Inodonesia.

BAB 2
PEMBAHASAN 


Pendidikan karakter merupakan pendidikan dalam membentuk sikap dan perilaku seseorang dalam mengahadapi masyarak sekitar sehingga menajadi pribadi yang lebih baik dan dapat menyesuaikan diri dengan sekitar. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam membangun generasi bangsa yang dapat mengharumkan nama bangsa, baik dari lingkup nasional hingga lingkup internasional. Kita dapat meneladani tokoh-tokoh yang memiliki karakter yang baik dalam memberi pendidikan kepada generasi bangsa kita ini.
Globalisasi merupakan hal yang tidak bisa kita pungkiri lagi. Informasi yang ada di seluruh dunia ini dapat kita akses secara bebas. Mulai dari budaya, cara berpakaian, tingkah laku, tren, dan lain sebagainya. Hal ini memudah kan kita dalam menggapai suatu informasi yang dapat menambah pengetahuan kita yang mana menjadikannya sebagai salah satu dampak positif dari adanya globalisasi.
Namun, globalisasi juga dapat memberikan dampak negatif terhadap kelangsungan kualitas generasi bangsa ini. Mulai dari peniruan berpakaian yang terbuka, akses situs perjudian, pornografi, informasi tentang tindak kriminal, dan lain sebagainya yang dapat memperburuk karakter bangsa ini. Sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai warga negara Indonesia untuk dapat memilih segala sesuatu yang masuk ke negara kita ini. Baik itu berupa budaya, barang, maupun informasi agar kita tidak terjerumus dalam dalam pengaruh negatif yang berasal dari luar Indonesia.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita dapat meneladani para ulama yang ada di negara kita ini. Kita dapat mencari tahu cara mereka dalam mendidik murid mereka, mulai dari pendidikan formal, informal, maupun cara mereka dalam mendidik karakter setiap murid mereka. Berikut beberapa dari ulama yang dapat kita contoh dalam mendidik karakter bangsa ini melali bagaimana cara mereka mendidik murid- muridnya.
K.H. Abdullah Salam mrupakan ulama sufi yang berasala dari Pati, kampung kecil yang dikenal dengan kota santri. Sebutan tersebut didapatkan karena di sana terdapat puluhan pondok pesantren yang mana terdapat ribuan orang santri yang berasal dari berbagai daerah, terutama daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nama panggilan dari K.H. Abdullah Salam ialah Mbah Dullah. Beliau merupakan hafidzul Qur’an yang berhasil dalam mendidik santri- santri yang berkualitas. Banyak diantara meraka yang berhasil menjadi pemimpin agama dan masyarakat di daerah asal mereka. 
Karakter dari Mbah Dullah yang sangat menonjol dari dirinya adalah kekonsistensinya dalam beribadah. Beliau sering berziarah ke makam K.H. Ahmad Mutamakkin. Walau di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia tetap konsisten beribadah. Selain dalam kekonsistenannya dalam beribadah, beliau juga di kenal dengan keikhlasannya. Di saat mengajar, beliau juga memberikan makan murid- muridnya. Dalam memberikan makan muridnya, beliau menggunakan hartanya sendiri tanpa mendapat bantuan dari orang lain. Beliau mengutamakan kemandirian ekonomi sehingga tidak bergantung pada orang lain. Sebab, ketergantungan pada orang lain merupakan simbol orang yang manja dan malas berusaha dalam mendapatkan hasil. Ia sangat membenci orang yang manja dan sangat bergantung pada orang lain, apalagi hingga meminta- minta dan tamak terhadap harta orang lain.
Beliau juga jeli dalam mengkader seorang menjadi meridnya. Contohnya adalah KH. Ahmad Muadz, pengasuh pondok pesantren Ar-Raudlah Ath- Thahiriyah, Pati. KH. Ahmad Muadz semasa mudanya senang menonton film. Saat ia berada di dekat gedung bioskop, ia bertemu dengan Mbah Dullah dan kemudian menyuruhnya masuk kesekolah dan mengajarkan akhlak. Ia menerima amanah tersebut wala dengan rasa penuh terpaksa. Lama kelamaan, beliau serius dalam mendidik dan benar- benar merasakan berkah dari Mbah Dullah.
Saat ini beliau telah memiliki kemampuan dalam ilmu agama yang mendalam, terutama hadits dan psikologi. Beliau juga piawai dalam berbicara di depan umum bahkan dengan menggunakan bahasa Inggris . Ia juga merupakan seorang wirausaha yang sukses dan memiliki usaha yang bercabang. Pada saat mengajar, beliau juga memberikan makan kepada para muridnya yang mana ia tiru dari gurunya KH. Abdullah Salam.
Tokoh lain yang dapat kita teladani selanjutnya yaitu Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Beliau merupakan sosok yang sering tampil di layar kaca terutama pada bulan Ramadhan.Beliau sering mengemukakan petuahnya yang sangat menyentuh hati dan menyadarkan kaum muslimin. Banyak karya beliau yang sangat terkenal. Yang paling terkenal adalah Tafsir al-Mishbab yang mana telah terbit hingga 15 jilid. Kepopulerannya terbukti dengan telah dilakukannya beberapa cetakan ulang dari karyanya tersebut.
Karakter yang dapat kita teladani dari beliau yakni semangat yang sangat luar biasa dalam menggapai impian dan cita- citanya kedepan dalam menjalani kehidupan. Beliau pernah mengalah satu tahun dalam melanjutkan jenjang ke Universitas Al-Azhar, Mesir karena kekurangannya dalam berbahasa Arab. Ia belajar bahasa Arab secara intensif selama satu tahun. Demi meraih cita-citanya dalam meraih agar dapat belajar di fakultas Ushuluddin, ia rela mengorabankan waktunya selama satu tahun itu. Pengorbanan yang ia lakukan itu tentu saja bukan menjadi suatu hal yang sia- sia. Pada akhirnya ia dapat berbahasa Aarab dan bahkan memahami apa yang dikatakan oleh para ulama yang ada di sana. 
Sisi lain dari beliau yang dapat kita teladani selanjutnya yaitu kesederhanaannya. Hal ini dapat kita lihat sendiri dari cara berpakaiannya, mobil, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Kesederhanaan merupakan lawan dari hedonisme yang senang akan kemewahan dan kemegahan. Dengan kesederhanaan mencerminkan seseorang itu merupakan insan yang santun, anggun, rendah hati dan berbudi pekerti luhur. Pribadi yang seperti ini dapat kita buktikan dengan melihat bagaimana beliau dalam menyampaikan tausiahnya pada layar kaca yang ada di rumah.
Akhirnya, keteladanan luar biasa yang dapat di berikan oleh seorang M. Quraish Shihab adalah kesuksesannya dalam meningkatkan keyakinan yang kuat dan menumbuhkan rasa kepercayaan dalam menggapai cita-cita hidup yang terbaik. Dengan keyakinan yang kuat, kepercayaan yang kokoh, dan ketekunan yang luar biasa dalam menatap karir, beliau berhasil dalam menggapai kesuksesan yang sulit ditandingi oleh orang lain. Nama beliau akan terus terkenang sepanjang sejarah intelektual Indonnesia, terutama pada bidang tafsir.
Tokoh berikutnya yaitu Prof. Dr. Ali Mustofa Ya’kub. Beliau merupakan lulusan dari Mekkah yang mana merupakan profesor di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) di Jakarta. Ali Mustafa menghabiskan waktunya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Semasa ia mondok di sana, ia seperti diak mau mengenali temannya karena kerajinannya dalam membaca kitab hingga larut malam.
Ia berasal dari keluarga yang sederhana dikampung, tapi cita-citanya melebihi batas geografis indonesia. Walau beliau telah lulus strata satu (S1) di Institut Keislaman Hasyim Asyari (IKAHA), namun demi ilmu ia mengulanglagi hingga strata dua (S2) di Mekkah dan doktornya diambil di India. Hebatnya lagi ia dianugrahi profesor di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ). Ali Mustofa merupakan sosok yang mampu menggabungkan ilmu fiqh dengan hadits menjadi satu kesatuan. 
Disaat mengajar, beliau menggunakan metode yang interaktif, dialogis, dan terbuka. Ia mendorong mahasiswanya untuk bertanya dan sigap dalam menjawab dan memberikan jawaban yang tepat dan tuntas. Selain itu, beliau juga pandai bergurau sehingga suasana dalam pembelajaran menjadi menyenangkan, ilmiah, dan akrab. Para mahasiswa antusias dalam mengikuti perkuliahan beliau walau mereka dihadapi dengan berbagai kesibukkan lainnya.
Karakter yang dapat kita teladani dari sosok beliau yakni kesungguhan beliau dalam belajar dan semangat yang amat tinggi dalam menggapai cita-cita. Ia juga berani bersuara lantang di depan kebohongan dan kemunafikan yang terjadi pada negeri ini. Ia tidak mudah menyerah pada perkembangan zaman dan tetap berpegang teguh pada syariat Islam. Selain itu yang menonjol dari beliau yaitu kecerdasannya dalam memanfaatkan waktu luangnya untuk menulis. Sisi lain yang menarik dari Ali Mustafa ialah keberhasilannya dalam menggabungkan aspek intelektualitas versi kampus dan retorika pengajian yang heterogen. Selain seorang penulis, dosen, akademisi, beliau juga merupakan seorang dai keliling. Ia mampu menggabungkan dua hal tersebut dengan sangat baik sehingga ia dapat di terima pada semua kalangan, mulai dari akademmisi, jamaah pengajian orang awam, pengusaha dan birokrat. Jabatan yang  ia emban saat ini adalah sebagai imam besar Mesjid Istiqlal yang selalu dikunjungi orang- orang penting, baik dalam maupun luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa jika karakter yang kita miliki kuat, maka dapat bertahan di situasi apapun.

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan 
Pendidikan karakter yang baik sangat dibutuhkan setiap insan dalam membangun bangsa yang berkarakter baik. Karakter yang kuat akan membentuk mental yang kuat pula shingga tidak mudah goyah dikala menghadapi pergantian zaman yang berlangsung secar cepat ini. Mental juga perlu dibangun sebab mental yang kuat akan melahirkan spirit yang kuat pula. Oleh karenanya, implementasian pendidikan karakter yang ada di Indonesia ini menjadi keharusan dalam membangun mental pemenang pada bangsa Indonesia di masa yang akan datang.
Untuk menggapai hal tersebut, hendaknya kita mencontoh karakter dan mental para tokoh ulama yang sangatlah kokoh. Begitu pula dengan mental yang mereka miliki. Mereka sangat tekun dalam beribadah yang mana hal ini jika ditiru oleh generasi penerus bangsa yang sekarang tertantang oleh pengaruh globalisasi, mereka tidak akan mudah goyah dan terpengaruh hal- hal negatif yang berasal dari luar. Bersikap ikhlas juga merupakan suatu hal yang dapat mendidik karakter. Dalam menghadapi segala permasalahan dan kemunafukan, hendaknya kita berani bersuara lantang dalam menentang hal tersebut. Menghindari sifat akan ketergantungan yang berlebih atau yang biasa disebut juga dengan sebutan manja melatih diri untuk terus berusaha dan membangun karakter yang mandiri. Kita harus bisa menghindari sifat manja tersebut karena manja merupakan lambang dari seseorang yang malas, rendah dan lemah dalam menghadapi suatu permasalahan.
3.2 Saran
Dalam mengembangkan karakter, hendaknya kita mencontoh sikap, mental dan karakter para ulama yang sangat luar biasa. Dalam mewujudkan inmpian besar mereka, mereka rela mnegrobankan waktu untuk tercapainya tujuan mereka dan keteguhan, kemandirian, ketekunan, kesabaran, keikhlasan, serta keikhtiaran mereka dalam berjuang dan beribadah. Hal ini lah yang harus ditanamkan pada setiap warga negara Indonesia agar menjadi negara yang memiliki karakter dan mental berkualitas tinggi yang mana dapat bersaing pada lingkup internasional. 

DAFTAR PUSTAKA


Asmani, Jamal Ma’mur. 2013. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah.  
Jogjakarta: DIVA press.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel