Iklan Responsif

Makalah Pendidikan Karakter di Sekolah

MAKALAH
DASAR-DASAR PENDIDIKAN
PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH


Disusun Oleh :
Nina Fajriyah Citra 19030184043/PFC 2019



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini dengan baik.
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang “Pendidikan Karakter di Sekolah”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tuntutan tugas yang diberikan kepada saya selaku mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Selain itu, makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan para pembaca khususnya dalam bidang Dasar-Dasar Pendidikan.
Sebelumnya saya berterima kasih kepada dosen pembimbing saya, Pak Dr. Binar Kurnia Prahani, M.Pd., atas arahannya sehingga segala proses terbentuknya makalah ini menjadi lancar. Tak luput peran serta keluarga yang selalu mendukung saya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu saya meminta maaf atas banyaknya kekurangan dari makalah ini. Saya mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun agar makalah ini dapat lebih baik untuk kedepannya. 
Akhir kata dari saya, semoga Allah Swt. memberkati makalah ini agar dapat bermanfaat untuk para pembacanya.
Wassalamualikum Wr. Wb.
Surabaya, 11 November 2019



Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karakter menjadi penting dalam diri seorang manusia. Kita dapat menilai baik-buruknya seseorang dari karakter yang ia miliki. Tentu hal ini sangat diperhitungkan terutama dalam memilih seorang pemimpin. Karena itu, perlu adanya pembinaan dalam membentuk karakter anak sedini mungkin agar menjadi sosok pemimpin kelak seperti yang diharapkan. Untuk itu, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memasukkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran pendidikan formal di Indonesia.
Kurikulum saat ini menerapkan penilaian karakter dalam parameter penilaian seorang siswa dalam kegiatan pembelajaran. Siswa diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan dan kemampuan yang unggul dalam kompetisi, tapi juga dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik dalam masyarakat. Seorang siswa disiapkan untuk berakhlak mulia dan berbudi luhur serta berkelakuan baik dalam kehidupan bermasyarakat. Lalu bagaimanakah pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia?
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan karakter?
2. Apa tujuan dari pendidikan karakter?
3. Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter sesuai dengan bangsa Indonesia?
4. Bagaimana cara membangun karakter peserta didik?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian pendidikan karakter
2. Mengetahui tujuan dari pendidikan karakter
3. Menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter sesuai dengan bangsa Indonesia
4. Memahami cara membangun karakter pada peserta didik



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Karakter
Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masnyarakatnya. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bab I Pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik mengembangkan potensi dirinya secara aktif untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Ini berarti, pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya.
Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas merupakan bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budipekerti, perilaku, personalitas, sifat,tabiat, temperamen, watak. Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark (menandai) dan memfokuskan pada cara mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.
Dari beberapa penjelasan mengenai pendidikan dan karakter dapat diartikan secara sederhana bahwa pendidikan karakter merupakan usaha untuk mengimplementasikan nilai-nilai karakter pada seseorang agar ia mengetahui, menyadari, dan bertindak  secara bermoral dalam menghadapi situasi apapun.
2.2 Tujuan Pendidikan Karakter
Secara umum pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelangaraan dan hasil pendidikan dengan mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang utuh, terpadu, dan seimbang antara kompetensi dan kepribadian yang ia miliki. Menurut T. Ramli, pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.
Melalui pendidikan karakter, seorang anak tidak hanya cerdas secara pengethuan, namun juga dapat mengendalikan emosinya. Pengendalian emosi merupakan bekal yang penting dalam menyongsong masa depan. Dengan pengendalian emosi, manusia dapat berpikir jernih dan bertindak dengan tepat dalam menghadapi segala tantangan dalam hidupnya. Jika pendidikan karakter ini berjalan dengan baik, maka siswa akan memiliki kepribadian yang bekerja keras dalam setiap usahanya, tidak mudah menyerah dalam menyelesaikan masalahnya, dan bersosialisasi dengan baik yang sangat berguna untuk kehidupannya kelak.
2.3 Landasan Pendidikan Karakter
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bab II Pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi luhur, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, berinovasi, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
2.4 Nilai-Nilai dalam Pendidikan Karakter
Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia telah merumuskan 18 nilai-nilai karakter yang ditanamkan pada diri setiap warga negara Indonesia. Nilai-nilai inilah yang diajarkan pada siswa dalam upaya membangun dan memperkuat karakter bangsa. Nilai-nilai tersebut di anataranya :
1. Religius
Patuh dalam menjalankan kewajiban yang telah diajarkan agamanya bagi pemeluk-pemeluknya. Selain itu, Toleransi terhadap agama lain, tidak mengganggu ibadah orang lain,dan menjaga kerukunan antar umat beragama. Contohnya melaksanakan ibadah sholat wajib 5 waktu bagi pemeluk agama Islam dan ibadah lainnya bagi penganut agama, berdoa ketika sebelum dan sesudah pembelajaran, dan tidak mengganggu ibadah/ritual/perayaan pemeluk agama lain yang tengah menjalankannya.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri untuk selalu dapat dipercaya orang lain dalam perkataan dan perbuatan. Contohya ia tidak menyontek saat mengerjakan ujian, tidak menjiplak tugas milik temannya, menyediakan tempat khusus untukpenemuan barang yang hilang, menyampaikan laporan kas kelas, serta tidak menambahkan atau mengurangi kata-kata yang sebenarnya ketika menyampaikan suatu informasi.
3. Toleransi
Perilaku yang menghargai perbedaan suku, ras, etnis, agama, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Contohnya tidak memotong pembicaraan orang lain, memberikan pelayanan yang baik kepada orang berkebutuhan khusus, bersedia bekerja dalam kelompok tanpa pilih kasih, dan tidak mendiskriminasikan individu maupun sekelompok orang yang berbeda dengan kita.
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan tertib dan patuh terhadap berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku. Contohnya tidak menyeberang jalan raya sembarangan, tidak membuang sampah sembarangan, membiasakan hadir tepat waktu, mengadakan presensi untuk kehadiran peserta didik, dan berpakaian sesuai dengan ketentuan saat di sekolah, kampus, kantor, atau tempat formal lainnya yang memiliki kebijakan cara berpakaian tertentu.
5. Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengerjakan suatu hal, mengatasi segala hambatan yang terjadi, dan menyelesaiakannya dengan sebaik-baiknya. Contohnya belajar dengan baik sebelum ujian, memanfaatkan waktu luang untuk belajar, dan mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.
6. Kreatif
Berpikir untuk menemukan suatu cara atau hasil yang berbeda dari yang sudah ada. Contohnya mengasah kemampuan kita dalam bidang yang kita sukai misalnya kepenulisan, menciptakan suasana belajar yang membutuhkan berpikir kritis, memberikan tugas yang autentik maupun modifikasi, dan mengasah pengetahuan dengan membuat suatu karya ilmiah.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang berusaha menyelesaikan masalah sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Contohnya mengerjakan tugas sendiri bila masih dapat dilakukan sendiri, membersihkan meja makan setelah memakainya, dan tidak selalu menanyakan jawabannya pada orang lain. 
8. Demokratis
Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai hak dan kewajiban dirinya sama dengan orang lain. Contohnya mengambil keputusan bersama melalui musyawarah mufakat, mengadakan pemilihan pengurus kelas secara terbuka, kewajiban bagi setiap orang untuk tidak mengotori lingkungan, maka setiap orang tidak ada yang boleh membuang sampah sembarangan.
9. Rasa Ingin tahu
Sikap dan tindakan yang berupaya untuk mengetahui segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya dengan lebih mendalam dan meluas. Contohnya mencari arti kosa kata bahasa Indonesia yang baru ditemuinya, mengadakan suasana pembelajaran yang menimbulkan tanda tanya bagi peserta didik, dan mengadakan sesi tanya jawab ketika kegiatan pembelajaran.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan dimana ia menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Contohnya mengikuti upacara-upacara setiap hari Senin dan hari-hari besar nasional, mengadakan program kunjungan ke tempat bersejarah, menyelenggarakan perayaan hari-hari besar nasional seperti memakai kebaya pada hari Kartini, dan menjadi relawan kegiatan sosial atau berprestasi di kancah internasional.
11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bersikap, dan berperilaku yang menunjukkan rasa kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa Indonesia meliputi bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi,dan politik bangsa. Contohnya mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dalam perilaku sehari-hari, menggunakan produk dalam negeri, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam sehari-hari, memajang foto presiden, wakil presiden, lambang negara, peta Indonesia,dan lain sebagainya di setiap kelas.
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan perilaku yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi untuk masyarakat serta mengakui dan menghormati keberhasilan milik orang lain. Contohnya memberikan penghargaan atas karya peserta didik, memberikan pujian kepada hasil kerja teman, dan memberikan selamat bagi teman yang meraih prestasi.
13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan perilaku terbuka terhadap orang lain melalui komunikasi yang sopan dan santun sehingga tercipta kerja sama secara kolaboratif dengan baik. Contohnya menggunakan bahasa yang baik dan santun ketika berbicara dengan orang lain, mengadakan pembelajaran yang menuntut peserta didik saling berinteraksi, serta guru yang selalu mendengarkan keluh kesah peserta didik.
14. Cinta Damai
Cinta damai, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai, aman, tenang, dan nyaman atas keberadaanya dalam komunitas atau masyarakat tertentu. Contohnya tidak membuat ujaran kebencian terhadap orang lain, membiasakan perilaku yang anti kekerasan, menciptakan suasana kelas yang damai dan menjaganya. 
15. Gemar Membaca
Membiasakan diri untuk menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi, baik buku, jurnal, majalah, koran, dan sebagainya. Contohnya mengadakan waktu literasi di sekolah sebelum jam mata pelajaran pertama, memberikan tugas yang memicu peserta didik untuk mencari referensi, dan mengadakan pembelajaran di perpustakaan yang mengharuskan peserta didik membaca buku tertentu.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Contohnya membiasakan diri untuk mengurangi sampah plastik dengan membawa kotak makan dan botol minum ke sekolah, menyiapkan tong sampah di depan setiap kelas, pembiasaan hemat energi, menyediakan alat kebersihan di setiap kelas, dan mengadakan jadwal piket bergantian.
17. Peduli Sosial
Sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain termasuk masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Contohnya menyediakan fasilitas untuk menyumbang di sekolah, berempati kepada sesama warga sekolah, menggalang dana untuk korban bencana alam di sekolah ketika terjadi suatu bencana di daerah tertentu atau ketika ada warga sekolah yang terkena musibah.
18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, sosial, masyarakat, bangsa, negara, maupun agama dengan sebaik-baiknya. Contohnya selalu melaksanakan ibadah sholat 5 waktu, melaksanakan perintah orang tua, melaksanakan tugas tanpa harus disuruh terlebih dahulu, melaksanakan tugas piket sesuai dengan jadwalnya, dan belajar dengan giat sebagai kewajiban bagi seorang pelajar.
Nilai-nilai di atas diharapkan tidak hanya disampaikan lewat mulut saja. Namun, peserta didik diharapkan dapat mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam setiap kegiatannya. Dengan begitu, tujuan Indonesia untuk membentuk warga negara yang memiliki karakter bangsa akan dengan mudah terwujud.
2.5 Pembangunan Karakter Melalui Pembiasaan
Aristotles (Covey, 1997) mengatakan “kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan”. Karakter kita pada dasarnya adalah terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kita. Ada pepatah mengatakan “taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib”. Proses pembentukan karakter dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Alur Pembentukan Karakter
Berdasarkan gambar di atas dapat dikatakan bahwa gagasan yang kita ketahui akan kita implementasikan dalam perbuatan, perbuatan yang terus dilakukan akan menjadi suatu kebiasaan, kebiasaan yang dilakukan secara berulang akan membentuk suatu karakter. 
Ary Ginanjar dalam buku ESQ mengatakan bahwa pembangunan karakter tidaklah cukup hanya dengan penetapan misi saja. Hal itu perlu dilanjutkan dengan proses yang terus menerus sepanjang hidup (Ary, 2007). Pembentukan suatu karakter dalam diri seseorang (peserta didik) tidaklah cukup dengan mengetahui nilai-nilai karakter apa saja yang akan dilakukan, namun harus disertai dengan perlakuan terus-menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan yang akan berujung kepada terbentuknya karakter.
Karakter dapat dipandang sebagai sekelompok kebiasaan yang terkoordinasi, apa yang kita pikirkan, rasakan, dan kerjakan, dimana suatu tugas dapat terlaksana. Pendapat ini sekiranya dapat menegaskan bahwa hakikat dari suatu karakter bukanlah hanya pada pemahaman, melainkan juga metode internalisasi kebiasaan yang diterapkan pada diri setiap individu. Seperti pandangan tentang penciptaan karakter dari buku Stephen R Covey, pembangunan karakter tidak cukup hanya dengan mengutarakan apa saja yang harus kita lakukan, namun dibutuhkan sebuah mekanisme perbuatan yang terarah secara berkesinambungan dan tiada henti.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa :
1. Pendidikan karakter merupakan usaha untuk mengimplementasikan nilai-nilai karakter pada seseorang agar ia mengetahui, menyadari, dan bertindak  secara bermoral dalam menghadapi situasi apapun.
2. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelangaraan dan hasil pendidikan dengan mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang utuh, terpadu, dan seimbang antara kompetensi dan kepribadian yang ia miliki.
3. Terdapat 18 nilai karakter yang ditanamkan pada diri setiap warga negara Indonesia, di antaranya : religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
4. Pembangunan karakter tidak cukup hanya dengan mengutarakan apa saja yang harus kita lakukan, namun dibutuhkan sebuah mekanisme perbuatan yang terarah secara berkesinambungan dan tiada henti yang disebut dengan pembiasaan.

3.2 Saran
Pemerintah sebagai pengontrol dunia pendidikan harus mengawasi jalannya pendidikan terutama penerapan pendidikan karakter pada peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik sepantasnya dapat menentukan metode dan menerapkan nilai-nilai karakter yang tertera sebelumnya pada peserta didik dengan tepat. Orang tua sebagai orang terdekat bagi peserta didik harus membiasakan nilai-nilai karakter tersebut pada anaknya agar karakter-karakter tersebut dapat terbangun pada diri setiap peserta didik.

 
DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, M. N. (1999). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Roesminingsih dan Susarno, l. H. 2005. Teori dan Praktek Pendidikan. Surabaya : Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Pendidikan.
Wahyudin, D. (2009). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. Winkel. (1983). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Sanata Dharma. 
Zainal, A. (2012). Pendidikan Karakter di Sekolah. Bandung: Yrama Widya





Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel