Iklan Responsif

Pembentukan Karakter Melalui Pendidikan Keagamaan

Pendidikan bersifat penting dan berlangsung seumur hidup. Perkembangan zaman di era modern ini menuntut bagi semua pihak untuk ikut serta dalam pengembangan pendidikan melalui kebijakan yang berinovasi. Inovasi pendidikan di suatu negara berbeda-beda. Hal ini biasanya disesuaikan oleh kebutuhan bangsa dari suatu negara itu sendiri. Tujuan pendidikan dapat menjadi dasar pembaharuan sistem pendidikan yang akan diberlakukan dalam negara tersebut. 


Selain itu, revolusi industri 4.0 juga menjadi dasar tuntutan bagi manusia untuk menguasai lebih dari satu keahlian supaya tidak tergerus oleh perkembangan teknologi zaman sekarang. Pendidikan yang ada saat ini membutuhkan berbagai inovasi atau pembaharuan guna meningkatkan kualitas dari sumber daya manusia itu sendiri agar lebih mudah menyesuaikan diri dengan era modern saat ini. 

Pembaharuan merupakan proses yang mendorong terciptanya perubahan secara terencana. Pembaharuan yang dilakukan dibidang pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan supaya proses pendidikan yang berlangsung dapat sesuai dengan maksud dari tujuan pendidikan itu sendiri. Perkembangan teknologi saat ini tidak menutup kemungkinan dapat mempengaruhi karakter manusia juga. 

Oleh karena itu, penting adanya sebuah pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang mencakup pengetahuan, kesadaran dan kemauan untuk melakukan tindakan dari nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter sering dikaitkan dengan pendidikan moral yang memiliki tujuan  untuk membentuk kemampuan individu guna penyempurnaan diri yang lebih baik. 

Pembaharuan atau inovasi yang dilakukan bukan hanya di dalam pendidikan akademik saja. Namun, pendidikan karakter  juga membutuhkan sebuah pembaharuan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atau kemendikbud selalu menjadi dasar rujukan bagi pembentukan dan penyusunan inovasi keberlangsungan pendidikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa agama menjadi bagian dari sumber pendidikan karakter. Pendidikan karakter tersebut dapat diterapkan di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Adanya kerjasama  dari berbagai pihak mampu mendukung proses pendidikan karakter yang berlangsung. 

Pihak sekolah biasanya memiliki banyak kebijakan yang harus diterapkan kepada peserta didiknya untuk mewujudkan pendidikan karakter yang sesuai dengan visi dan misi sekolah tersebut. Kegiatan rutin sholat berjama’ah dan sholat sunnah dhuha bagi siswa muslim termasuk contoh dari pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan sekolah. Contoh lain dari pendidikan karakter yang sering diterapkan di lingkungan sekolah yaitu kegiatan membaca doa sebelum dan sesudah memulai pelajaran. Hal-hal kecil seperti ini membawa dampak besar di kemudian hari. 

Lingkungan keluarga juga mampu menjadi proses penerapan pendidikan karakter. Contohnya dengan mengucap salam sebelum masuk rumah atau beribadah bersama. Hal tersebut merupakan sebagian dari beberapa bentuk pendidikan karakter yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga. Selain bertujuan untuk membentuk kepribadian individu yang lebih baik, pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga mampu meningkatkan keharmonisan keluarga itu sendiri sehingga tercipta keluarga yang tenang, tentram dan bahagia. Selain civitas akademik di sekolah dan keluarga di rumah, peran masyarakat juga penting bagi penerapan pendidikan karakter. 

Sebagian besar kegiatan yang dilakukan di masyarakat mempunyai tujuan sebagai bentuk pendidikan karakter. Peringatan hari besar islam yang dilakukan dengan bentuk pengajian umum atau kegiatan kajian agama yang dilakukan secara rutin termasuk bagian dari contoh pendidikan karakter di lingkungan masyarakat. Selain itu, mengucapkan salam dan menegur sapa masyarakat yang lain juga merupakan bentuk pendidikan karakter. Sosial, budaya, etika dan moral juga termasuk faktor yang dapat mempengaruhi keberlangsungan pendidikan karakter. Namun, agama hanya menjadi salah satu faktor penting yang dinilai lebih dominan dalam proses penerapan pendidikan karakter.


Penulis : Dyah Ayu Lestari



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel