Iklan Responsif

Pendidikan Karakter yang Tertantang Globalisasi

Pada era globalisasi yang kita hadapi saat ini, banyak sekali tantangan terhadap dunia pendidikan. Globalisasi juga menyebabkan timbulnya peikiran liberalisme, moral, dan perilaku yang mana dapat menggoyahkan etika dan norma yang kita junjung selama ini. Penurunan atau penghilangan kesakralan atau yang biasa di sebut dengan desakralisasi suatu moral merupakan realita yang sudah tidak bisa dihindari lagi. 

Pendidikan Karakter yang Tertantang Globalisasi

Konservatisme dan tradisionalisme merupakan musuh besar bagi globalisme. Hal ini merupakan tanggung jawab setiap insan warga negara dalam memulihkan kerelevanan nilai- nilai tradisional dengan dunia yang modern ini yang serba instan, liberal, dan sekuler. Pengantisipasian akan tantangan globalisasi harus dilakukan sedini mungkin dalam menentukan langkah visioner yang aplikatif. Dilaksanakannya program ini mengingat akan perubahan yang terjadi pada era globalisasi ini yang terus terjadi sepanjang waktu sehingga sulit untuk diprediksi.

Berdasarkan realita kehidupan yang dialami bangsa dan negara dewasa ini , Mengalami berbagai macam krisis, sudah menjadi hal yang sangat penting bagi kita untuk merealisasikan pembangunan karakter bangsa negara ini. Proses pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dilepaskan dalam proses pembangunan karakter bangsa ini. Ada beberapa tantangan yang menjadi masalah utama dalam pendidikan karakter pada era globalisasi sekarang ini. Berikut merupakan beberapa masalah tersebut.

Pengaruh Negatif Televisi

Pada saat ini televisi seakan menjadi kebutuhan utama pada keluarga.  Terutama anak-anak yang seolah- olah menjadikan televisi sebagai menu utama dalam kegiatan mereka sehari- hari,  terutama pada saat liburan tiba. Seakan-akan hati mereka merasa berat jika sehari saja mereka tidak menonton televisi. Akhirnya hal ini menjadi kebutuhan primer mereka layaknya, makan, minum, dan berpakaian. Banyak orang tua yang menggunakan parabola untuk menjangkau channel yang lebih banyak. Hal ini dapat membuat anak lebih bebas atau lebih leluasa dalam menggali informasi. 

Jika hal ini tidak dibatasi oleh orang tua itu sendiri, anak dapat terjerumus kedalam hal negatif yang berasal dari tayangan yang mereka tonton di televisi akibat dari lingkup tontonan mereka yang lebih bebas. Hal ini sangat berbahaya bagi perkembangan karakter mereka karena dengan apa yang mereka tonton, mereka meniru mulai dari cara berpakaian, ucapan, perilaku, dan lain sebagainya yang dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan karakter mereka. 

Hendaknya orang tua lebih bijak dalam memberikan kebebasan dalam menonton televisi dengan memberikan tayangan yang mendidik. Begitu pula dengan peranan pemerintah yang harus lebih ditingkatkan lagi dibidang teknologi dan informasi agar karakter penerus bangsa kita ini dapat terselamatkan.

Pergaulan Bebas

Sekarang ini, pergaulan para remaja bisa dibilang mengkhawatirkan. Mereka berkumpul dengan teman atau kelompuk mereka atau yang biasa saya kenal dengan istilah “Nyangkruk” untuk beraktualisasi dan menemukan satu jiwa atau hati yang sejalan dalam berekspresi. Jika di tinjau dari ilmu psikologi, orang ang berkumpul dengan temannya atau suatu kelompok tidaklah selalu berekspresi seperti dirinya sendiri yang mana dapat terbawa perilaku kelompoknya. 

Contohnya seperti supporter sepak bola. Mereka rela kehabisan suara dengan berteriak menyemangati yang mereka dukung. Jika yang mereka dukung kalah, terkadan mereka merasa kesal dengan membuat suatu kerusuhan hingga berbuat keonaran dan anarkis. Di sinilah peran seorang pemuka agama dan aktivis dalam merancang dan membentuk lingkungan sosial  yang bernilai pengetahuan, spiritual, moral, hingga sosial budaya. 

Jika hal ini dapat terlaksana secara sempurna, program ini dapat bermanfaat dalam perkembangan karakter penerus bangsa. Hal ini juga dapat membantu masyarakat, terutama kaum remaja dalam membangun kepribadian yang lebih baik agar mereka dapat meraih cita-cita mereka dan dapat membanggakan dan mengharumkan nama bangsa dan negara ini.

Hal-hal diatas hanyalah sebagian dari ancaman karakter yang sedang kita hadapi saat ini terutama kaum muda yang moral dan mental mereka masih tergolong labil. Mereka begitu mudahnya terpengaruh akan tren yang sedang marak di sekitar mereka. 

Ini menunjukkan bahwa pondasi pendidikan karakter harus secara serius diperkokoh agar tidak mudah terpengaruh oleh globalisasi dan modernisasi yang sangat cepat. Oleh karena itu sudahlah menjadi peranan penting bagi seluruh warga negara dalam memperkuat pondasi karakter ini agar tidak berdampak buruk bagi kelangsungan bangsa dan negara kita ini.


Penulis : Arif Muafa




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel